Tampilkan postingan dengan label stanis menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label stanis menulis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Agustus 2008

Mengintip Sosietet TBY

~dimuat di milis ngobrolin teater pada 9 0ktober 2005~
Kadang terasa menyebalkan, saat asyik menikmati pertunjukan live seperti teater di stage, tiba-tiba lampu padam alias listrik ngadat. Kejadian ini kualami dua kali saat nonton "Jaran Sungsang" Teater Gadjah Mada sewaktu penutupan Festamasio 3 2005 serta saat menyaksikan "Karno Tanding" Teater Lilin Universitas Atmajaya Yogya saat penutupan Festival Ketoprak antar kabupaten dan kodya se Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta belum lama ini. Kebetulan keduanya adalah acara selingan dan kebetulan pula di gedung yang sama gedung pertunjukan Sosietet TBY. Dan bisa ditambah daftar "kebetulan" diatas dengan kebetulan pada saat pemadaman listrik itu bersamaan waktunya dengan gedung sebelah (Concert Hall--yang menurut kabar harga sewanya lebih mahal sekian kali lipat dari Sosietet--sedang melakukan persiapan untuk kegiatan keesokan harinya...sekali lagi baca dengan seksama

Sembilan Bulan Sepuluh Hari

~dimuat di milis ngobrolin teater pada 24 september 2005~

Hello hai semua kawan-kawan yang ada di milis Ngobrolin Teater. Hari ini tepat (dalam hitungan mundur) sembilan bulan sepuluh hari sejak pertama kali milis ini diluncurkan pada 14 Januari 2005 (sehari setelah pertunjukan monolog "Matinya Seorang Pejuang" di gedung Sosietet TBY/13 Januari 2005. Berangkat dari ngobrol santai seusai pertunjukan di lobby sosietet bersama Eko Ompong, Wendy Shanwong, serta kawan-kawan yang lain. sementara disudut lain, panitia dari KASUM, penyelenggara monologpun tengah asyik berdiskusi seputar Munir. Nampak hadir saat itu Suciwati istri almarhum yang menginap di Hotel Limaran dekat Sosietet.
Namun obrolan kami di sudut yang berbeda dengan panitia tidaklah selalu merujuk pada peristiwa Munir itu sendiri, waktu itu kami malah ngobrol seputar seni peran dan lebih melihat sosok Whani sebagai

Sebuah Pesta Bagi Insan Teater Kampus Tengah Bergulir

~dimuat di milis ngobrolin teater pada 8 September 2005~
Diiringi rasa penat yang sangat setelah menempuh perjalanan menyusuri aspal sepanjang Sewon hingga Condongcatur. Menjadi segar kembali saat di Sosietet sore itu, kujumpai kawan-kawan Teater yang tengah observasi panggung. Dipandu oleh Kawan Ucil dari TGM beserta beberapa
crew yang lain aku sempat ngobrol santai dengan beberapa kawan dari peserta Festamasio 3 ini.
Agak melegakan ketika insan Teater memahami kegiatan Festamasio ini adalah sebuah pesta. Layaknya suatu perhelatan massal yang melibatkan element Teater dari seluruh penjuru Indonesia. Malamnya nongol sebentar di gelanggang mahasiswa UGM buat nonton Welcome Party yang cukup meriah.

Sampai di titik ini, aku merasakan denyut kemeriahan pesta itu.

Minggu, 17 Agustus 2008

Yang Tersisa dari TEMPA

~dimuat di milis ngobrolin teater,6 agustus 2005~
Barangkali inilah penyelenggaraan Festival TEMPA yang paling mengundang keprihatinan. Padahal dari pihak panitia sudah cukup maksimal didalam upaya menggairahkan penyelenggaraan Festival ini dengan mengadakan Work shop bagi perwakilan SMU dan sederajat di DIJ. Dari catatan yang disampaikan dewan juri festival yang terdiri dari; Indra Tranggono, Landung Simatupang serta Agus Prasetya yang dibacakan oleh Landung pada malam penyerahan hadiah di gedung Sositet Taman Budaya Jogja, terindikasi adanya semacam anggapan yang miring terhadap keberadaan teater di sekolah menengah di Jogja. Ada sementara pendidik (baca guru sekolah maupun kepala sekolah) yang tidak memberi dukungan positif bagi keikutsertaan anak didiknya ke ajang festival seperti TEMPA ini. Bahkan yang terdengar cukup menyedihkan adalah kenyataan adanya anggapan dikalangan sementara guru sekolah itu, bahwa