Selasa, 19 Agustus 2008

Improvisasi

~dimuat di milis ngobrolin teater (18 September 2005)~

Latihan Improvisasi
Untuk Materi Karantina Anggota Baru
Teater Syahid Jakarta 2005
1. Latihan improvisasi dalam seni teater modern Indonesia dipopulerkan oleh WS.Rendra dalam bukunya Bermain Drama atau Seni Drama untuk Remaja yang diterbitkan Balai Pustaka. Namun demikian hal tersebut bukanlah sesuatu yang baru, khususnya dalam seni pertunjukan tradisi Indonesia yang memiliki akar kuat daya spontanitas pemain dalam penciptaan pemanggungan. Fakta itu didukung oleh kekuatan oral/lisan para pendongeng atau berbagai mitologi yang disebarluaskan turuntemurun melalui lisan dari orang-orang timur masa
lalu sampai sekarang. Pada akhirnya berpengaruh pada pemanggungan sebuah cerita yang dipentaskan oleh kelompok-kelompok teater tradisi yang tidak tertuliskan dalam bentuk naskah, melainkan mereka cukup menyepakati tema atau plot sebuah cerita dan peranan-karakter masing-masing pemain yang akan dipentaskan dihadapan penonton. Adapun isi, pengembangan dialog, pengembangan emosi, watak dalam peran hingga penyelesaian cerita diserahkan sepenuhnya pada kecerdasan intuisi atau daya cipta pemain secara spontan di atas panggung.
2. Improvisasi dalam pengertian saat ini merupakan latihan pengembangan dasar dari bentuk-bentuk pelatihan elemen dasar dalam teater (olah vokal, olah tubuh, olah pikir dan olah rasa serta teori-teori pemanggungan dasar) yang telah diperkenalkan lebih dahulu kepada para calon pemain. Seperti halnya beberapa materi yang telah diberikan terdahulu.
3. Improvisasi berfungsi menumbuhkan daya aktif, inisiatif, kreatif dan inovatif setiap calon pemain, mengasah daya cipta,daya khayal dan keterampilan bermain calon aktor secara spontan di atas panggung; berdialog dengan wajar dan logis, menggunakan bahasa tubuh (gesture,bisnis acting, dan simbolisasi berbagai bentuk gerakan anggota tubuh) dengan wajar dan logis pula, kemampuan memecahkan masalah yang takterduga di atas panggung, serta keterampilan memainkan berbagai peran, ruang dan waktu. Untuk itu sebagai dasar persiapan latihan, pemain dituntut untuk lebih dahulu mampu menghancurkan berbagai halangan, beban dan hambatan yang tidak perlu terus diikuti dan dipelihara dalam dirinya, semisal; rasa minder, rasa takut, rasa malas, khawatir karena pikiran negatif, takut pakaian kotor, lagi tidak moods,dll.Sebaliknya, harus memiliki dan menjaga terus menerus pola berpikir yang positif pada segala hal.
4. Bentuk-bentuk Improvisasi dapat dikategorikan sesuai dengan target pencapaian atau fokus latihan yang kita inginkan.Hal tersebut diupayakan dapat mempermudah pengamatan kita terhadap berbagai kelemahan dan kelebihan yang dimiliki pada diri calon pemain. Semisal yang terurai di bawah ini, bagaimana keterampilan berkata-kata atau berdialog menjadi target utama sebagai media bahasa penyampai pesan dari apa (isi pikiran dan perasaan) yang ingin diekspresikan para pemain kepada penonton. Adapun tubuh sebagai target selanjutnya diposisikan sebagai media penyampai pesan yang masih berfungsi dalam kerangka pendukung, penguat, dan isyarat verbal dari bahasa lisan tersebut. Sebelum pada akhirnya tubuh menjadi bahasa dan symbol yang mampu berdiri sendiri tanpa membutuhkan verbalisasi kata-kata.
A. Improvisasi berbasis kata-kata.
Target pelatihannya; calon aktor dapat trampil dalam berbicara dan berdialog secara verbal, runut-logis, dan wajar layaknya keseharian serta mampu menyelesaikan ide/gagasan baik terduga ataupun yang tidak terduga di atas panggung.
· Latihan tahap pertama, diawali dengan acara perkenalan masing-masing diri calon pemain.Caranya; setiap individu diberikan kesempatan di atas panggung selama 1 s/d 5 menit untuk dapat menceritakan suatu pengalaman faktual (lahir dan atau batin) yang dialaminya baik secara langsung maupun tidak langsung.Calon pemain dipersilahkan pula untuk menggunakan berbagai benda atau property (bila dibutuhkan) yang mampu menguatkan dari pesan yang ingin disampaikan. Selanjutnya berkembang dengan cara memainkan dirinya sendiri di atas panggung secara bersama (berdua,bertiga,dan berempat).Adapun temanya masih berkutat saja dulu seputar kehidupan sehari-hari para calon pemain itu; bagaimana kesehariannya di rumah, di kontrakan, di kuliahan dll selama 5 s/d 10 menit. Pada tahap ini juga, para calon pemain dipersilahkan untuk memasukan adegan meniru-niru berbagai gaya (bicara,gerak,jalan) siapapun yang diingatnya.
· Latihan tahap kedua, para calon aktor mulai mempersiapkan dirinya untuk memainkan peran orang lain di luar dirinya. Metode ini memiliki dua kategori;
a. Tema, peranan, tempat/ruang, waktu, suasana dan plot cerita didiskusikan dan disepakati lebih dahulu baik sebagian maupun keseluruhannya oleh para pemain.
b. Tema, peranan, tempat/ruang, waktu, suasana dan plot cerita tidak dibicarakan atau disepakati lebih dahulu, baik sebagian maupun keseluruhan darinya oleh para pemain sebelum masuk panggung.
Catatan;
a. Kategori kedua memiliki resiko permainan lebih tinggi ketimbang yang pertama. Sebab sangat dibutuhkan sebuah kesiapan mental calon pemain yang bagus; Mengkonsentrasikan semua pikiran, perasaan dan tubuhnya terhadap apa yang tengah terjadi dan akan terjadi di atas panggung.Istilah Stanislavsky;Now and here; Menyimak dengan seksama semua dialog atau laku pemain lain yang telah memasuki panggung lebih dahulu, sambil meraba ide peranan yang dipilihnya, sebelum memasuki panggung untuk merespon dengan waktu yang tepat. Jangan kaget bila apa yang telah anda persiapkan (peranan,tema,waktu,tempat,suasana dan plot cerita) di alam ide anda, ternyata pada prakteknya tiba-tiba melenceng atau jauh dari apa yang telah anda bayangkan sebelumnya. Pada fase ini anda kembali dituntut, sejauhmana daya kreativitas anda ditantang untuk dapat mengatasi situasi dan kondisi semacam itu. Apalagi semakin banyak jumlah pemain di atas panggung akan semakin berat tantangan yang akan anda hadapi.
b. Jumlah Pemain atau lawan dialog permainan akan meningkat; mula-mula akan kita coba dua orang-dua orang, lalu tiga orang-tiga orang, kemudian empat orang-empat orang dan seterusnya. Sampai kemudian semua peserta yang mengikuti pelatihan ini mencoba merangkai/membuat sebuah jalinan cerita secara bersama-sama dari kategori kedua di atas.Kita coba batasi jumlah pemain di atas panggung maksimal 4 orang. Para pemain berhak memilih peran yang diinginkan sesuai dengan konteks cerita dan masalah yang telah ditawarkan oleh tokoh pertama,kedua atau ketiga yang lebih dahulu memasuki panggung.
Tips; Siapkan sebanyak-banyak ide cerita dan peran dalam diri anda ! Sebab anda akan dapat segera memilih ide lain untuk memecahkan kegagapan yang anda hadapi karena ide pertama dan kedua (bayangan) anda mungkin tidak sesuai dengan praktik yang terjadi. Selain tentunya anda harus membiasakan terus bergairah (adanya keinginan keras,dan penuh emosional), tenang dan berjiwa besar pada bentuk apapun yang akan anda temui.
B. Improvisasi berbasis tubuh.
Target pelatihannya; Menyiapkan para calon pemain agar mengerti dan terampil menggunakan (anggota) tubuhnya sebagai bahasa atau media penyampai pesan, baik secara verbal dan non-verbal (gesture/isyarat/sikap/langkah,symbol/tanda,dan idiom) di atas panggung.
· Latihan tahap pertama, setiap pemain bergiliran memainkan satu adegan kecil atau peristiwa singkat di atas panggung tanpa menggunakan kata-kata verbal. Dibawah ini ada beberapa contoh. Mainkanlah:
a. Jam 9 pagi, seseorang tergesa-gesa pergi ke sekolah untuk mengikuti ujian akhir karena terlambat (kesiangan). Sampai di halte, ia semakin gelisah karena mobil yang sudah lama ditunggu tak juga datang. Akhirnya, dengan rasa kecewa, rasa khawatir bercampur keluh kesah dan putus asa ia putuskan untuk tidak masuk sekolah.
b. Malam hari, seorang peronda mengelilingi kampungnya.
c. gfhfgffhfhg
· Latihan tahap kedua, para calon pemain akan dibagi dalam beberapa kelompok, dan di setiap kelompok diisi maksimal oleh 3(tiga) orang calon pemain. Materi ini sesungguhnya tak jauh beda metodenya dengan tahap kedua dalam improvisasi berbasis kata-kata di atas.Prinsipnya ada bentuk latihan tersebut yang telah direncanakan, dan ada bentuk yang tidak direncanakan sebelumnya di antara pemain dalam sebuah kelompok sebelum memasuki panggung. Adapun perbedaannya jelas pada fokus media yang digunakan.Pada bentuk improvisasi berbasis tubuh ini, calon pemain harus
5. Bentuk improvisasi dalam proses pelatihan dasar untuk kali ini, saya akan konsentrasikan lebih dahulu pada keterampilan berbicara/berkata-kata para calon pemain secara spontan, wajar dan logis/sistematis.
__________wong.

2 komentar:

giegin mengatakan...

informasinya bagus banget untuk menambah pengetahuan tentang improve di panggung!! thanks
adakah lagi materi yang lain ??

ferdi ardianto mengatakan...

ada buku yang mengenai improvisasi drama ngak?