Sabtu, 16 Agustus 2008

Sekolah Teater Di Berlin (Oleh-oleh dari Jerman)


oleh:Eko Ompong Santosa
~tulisan ini pernah di posting di milis ngobrolin teater,26 januari 2005~

Di Berlin terdapat Universitas Seni yang bernama Universitaet Der Kunste. Universitas ini memiliki 5 (lima) fakultas yang terdiri dari; Fakultas Seni Rupa (Bildende Kunst), Fakultas Desain dan Arsitektur (Gestaltung), Fakultas Pendidikan dan Ilmu-ilmu Sosial
(Erziehungs und Gesellschaftwissenschaften), Fakultas Musik dan Fakultas Seni Pertunjukan Darstellende Kunst).

Seni Teater masuk ke dalam Fakultas Seni Pertunjukan yang membawahi 7 (tujuh) program studi yaitu; Teater Musik/Nyanyi, Pemeranan/Keaktoran, Pertunjukan Musikal, Desain Set/Panggung, Desain Busana, Penulisan Kreatif untuk Panggung dan Pendidikan Drama dan Teater.

Dalam menjalankan proses pemelajarannya Universitaet Der Kunste tidak menggunakan kurikulum baku seperti halnya di Indonesia. Pelajaran ditekankan pada
penguasaan materi-materi yang dibutuhkan oleh seorang mahasiswa dalam program studi tertentu. Sebagai misal; dalam program studi pemeranan (Keaktoran) mahasiswa diberi seluruh materi yang harus dikuasai oleh seorang aktor. Jadi, apa yang sesungguhnya harus dikuasai oleh seseorang agar disebut sebagai aktor itulah yang harus dipelajari. Untuk itu, maka hampir 90% pelajaran
keaktoran berupa praktek. Hal ini mengingatkan kita pada motto; "tidak ada kata lain bagi aktor selain kerja (latihan), kerja, kerja dan kerja!"

Lebih rinci, marilah kita lihat apa yang diajarkan di Program Studi Pemeranan (keaktoran) tersebut;

1. Teori Teater
Pelajaran yang berisikan tentang sejarah dan perkembangan teater, teori-teori serta pandangan
tokoh2 teater dunia. Segal hal yang menyangkut teori diajarkan dalam pelajaran ini, dan inilah satu2nya pelajaran teori yang diberikan.
2.Teknik Tari
Dalam pelajaran ini siswa dilatih untuk melakukan dan menemukan teknik-teknik dasar menari. Beragam teknik diberikan mulai dari dasar hingga samapai rangkaian gerak.
3.Dasar-dasar Menari
Kelanjutan dari dasar tari dimana siswa dilatih untuk menari dalam gaya atau bentuk tarian tertentu. Jenis tarian yang diajarkan tentu saja tarian yang populer sehingga lebih bisa mengena dan dapat digunakan (diaplikasikan) dalam pertunjukan teater.
4.Ritmik Dasar
Pelajaran seni musik dasar yang memberikan ketrampilan kepada siswa untuk dapat membaca not dan melagukannya dengan diiringi piano. Akhir dari pelajaran ini adalah menyanyi. Jadi menyanyi juga merupakan satu hal yang harus dilatihkan kepada aktor.
5. Lied (Interpretasi Syair)
Merupakan kelanjutan dari pelajaran Ritmik Dasar. Tujuannya adalah agar sang penyanyi dapat mengahayati lagu yang dinyanyikan, maka interpretasi syair lagu harus dipahami sebaik mungkin.
6. Akrobat
Pelajaran ini menyangkut ketahanan fisik dan kemampuan tubuh melakukan atraksi. Tidak saja kelenturan tetapi beragam gaya dan aksi dapat dilakukan oleh aktor dengan media tubuhnya, demikianlah kira2 inti pelajaran akrobat.
7.Bela diri
Seni beladiri yang diajarkan adalah Anggar dan toya. Dasar-dasar bermain anggar diajarkan hingga sampai koreografi perkelahian kelompok dengan menggunakansenjata pedang. Demikian juga dengan piranti toya, mulai dari toya pendek hingga toya panjang dan juga koreografi kelompok dilatihkan di sini.
8. Feldenkrais
Feldenkrais adalah teknik olah tubuh yang ditemukan oleh Mose Feldenkrais(teknik lain yang lazim digunakan di Amerika adalah Teknik Alexander). Teknik ini menggabungkan olah logika dan olah tubuh. Dalam pelajarannya tubuh dikendalikan oleh pikiran dan pikiran memikirkan keberadaan tubuh sedetil mungkin. Segala jenis gerak ketidakbiasaan juga dilatihkan misalnya bagaimana memaksimalkan tangan kiri seperti halnya tangan kanan, dsb.
9.Tubuh dan Suara
Pelajaran dasar olah vokal yang dikombinsaikan dengan olah tubuh dalam sebuah permainan. Koordinasi antara pikiran, gerak tubuh dan suara dilatihkan dalam game-game yang menarik.
10. Stimme (olah suara)
Pelajaran khusus olah suara yang mengksplorasi ragam jenis suara dan kemungkinan-kemungkinan rangkaian suara yang dapat diproduksi melalui pita suara serta disesuaikan dengan nada-nada musik. Gerak-gerak dasar juga dilakukan dalam mengeksplorasi suara. Demikian juga ketika suara harus menyesuaikan dengan nada musik maka gerak tubuh harus mengikuti irama yang dimainkan.
11 Sprechen (wicara)
Pelajaran khusus dialog dimana siswa dilatih berbicara mulai dari tahap pernafasan hingga sampai mengucapkan rangkaian kalimat. Pelajaran ini sangat detil karena setiap penggal kata, jeda, pelafalan, intonasi, diksi dan semua problem berbicara diperhatikan dan dipelajari.
12. Fragmen (Szene)
Dalam pelajaran ini semua siswa dapat mengaplikasikan beragam teknik yang telah didapati dalam seluruh mata pelajaran yg telah diikuti. Fragmen dimulai dari pencarian karakter hingga sampai memainkannya, baik secara improvisasi ataupun dengan menggunakan naskah.
Tahap akhir dari pelajaran ini adalah memainkan naskah secara fullplay dan sekaligus sebagai ujian akhir dalam menempuh studi.

Itulah sekilas tentang latihan keaktoran yang diberikan di Universitas Der Kunste dalam satu musim pelajaran. Jika kita cermati tentunya kita akan berkerut karena selama ini di teater kita hanya mempelajari olah tubuh, vokal dan sukma tanpa menggali kembali menjadi bagian-bagian (cabang-cabang) yang lebih detil, teliti dan cermat. Diakui atau tidak kita telah terjebak dalam pola pembelajaran yang diwariskan secara turun temurun dari para seniman pendahulu kita tanpa mau menguak lagi apa sesungguhnya yang perlu dikuasai (dipelajari) oleh seorang aktor. Jadi bukan barang yang mustahil ketika kita temui aktor-aktor yang tidak bisa menyanyi ataupun menari di negeri kita ini. Tetapi anehnya kita mengakui juga mereka itu sebagai aktor. Yah, kita memang masih harus banyak belajar dan untuk tetap mau belajar kita tidak boleh males karena teater sesungguhnya adalah kerja, kerja dan kerja. Siapa yang meneteskan keringat atau bahkan darah ialah yang berhak berada di depan dan memimpin barisan.

Tidak ada komentar: